Cinta Elif Kara Para Ask #19 10 episode

Di pusat perbelanjaan, Asli mendorong kereta belanjaan yang sudah penuh dengan bersemangat, tapi masih mengambil di rak belanjaan, “aku akan ambil ini untukmu, kau akan membutuhkan ini, dan ini juga. Kau akan jadi laki-laki atau perempuan, apapun yang penting kau sehat. Aku juga akan ambil yang mana lagi ya”, dengan mata mencari. Asli berhenti dekat sebuah boneka yang tergantung dan memanggil pelayan. Pelayan yang sedang mendorong troly berisi barang yang akan dipindahkan, nyahut, “ya, silahkan”.

Asli meminta tolong, “bisa kau turunkan yang ini?”. Pelayan mendekat, “baik nyonya”, memastikan lagi, “yang ini?”. Asli mengiyakan dan memberitau sambil mengusap perutnya, “aku sedang hamil”. Pelayan mengangguk tersenyum dan mengambilkan boneka yang diminta Asli. Saat Asli menerimanya, dia sangat bersemangat, “lihat apa yang ibu belikan untukmu, lihat apa yang ibu belikan untukmuu, kau akan main dengan ini sayaang”, sambil melanjutkan berbelanja.

Di rumah keluarga Demir, Melike sedang memasang taplak meja yang ditaman saat Omer muncul dengan wajah kusut, ia langsung menyapa, “selamat pagi, kau jaga malam sepertinya, kakakmu juga datang pagi. Kenapa pulang terlambat?”. Omer menjawab sambil lalu, “aku ada pekerjaan”. Melike menambahkan ucapannya, “hei, tentu saja kau masih muda, kau juga tampan seperti ayahmu, kaya miskin selalu mengejar dia, itu tidak mudah”.

Omer kesal dengan komentar kakak iparnya, “astaga, diamlah kakak, aku sedang tidak mau bicara denganmu!”, kemudian melangkah masuk rumah. Melike jadi agak heran dengan sikap Omer, ia menarik nafas, kemudian dengan cepat berlari ke dalam.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 12 episode

Di tempat perbelanjaan, Asli sudah berdiri di kasir dengan gaya ala orang kayanya. Kasir mempersilahkannya mengisikan pin kartu pembaayarannya. Asli memasukkan pin, menunggu dengan sikap kesal menunggu sambil memainkan rambutnya. Kasir memberitau, “kartu anda tidak berfungsi nyonya”.

Asli tersenyum ngeledek, “hmm, apa maksudnya tidak berfungsi. Kau tidak mengerti sepertinya, apa kau tau berapa limit kartu ini, coba kau memikirkan, kau bahkan tidak bisa membayangkannya. Ayo cepat”. Kasir menelan ludah dengan tertunduk. Asli ga sabar, “cepat!”. Kasir menjelaskan, “kalau bisa pasti berfungsi, kau mau coba kartu yang lain atau menghubungi banknya?”.

Asli kesal, ia menarik kartu miliknya dari tangan pelayan, “aku tidak mau menghubungi banknya! Kalian bereskan aja mesinnya, aku akan belanja di tempat lain”, kemudian meninggalkan kasir dengan marah, “keterlaluan!”. Tapi tak berapa lama, Asli balik lagi ke tempat dagangan yang ditempatkan dibagian luar, agak jauh dari kasir. Asli mengambil satu benda, lihat kiri kanan, memasukkan ke dalam tasnya, kemudian melenggang menuju pintu keluar. Alarm berbunyi.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :