Cinta Elif Kara Para Ask #19 63 episode

Huseyin membuka percakapan, “dua hari kedepan akan turun hujan, sepertinya di musim ini kita tidak akan melihat matahari”. Melike merespon, “tidak apa-apa turun hujan, kita kan masih punya atap”. Omer ikut mendongakkan kepala ke arah rumah. Nyonya Elvan berkata, “tentu saja hujan itu berkah”. Omer menyandarkan tubuhnya.

Melike akhirnya bertaya keadaan adik iparnya juga, “oya Omer, bagaimana hari ini, tadi pagi saat kau pergi kau kelihatan sangat sedih, kau juga membuat kami sedih”. Omer mengangguk-angguk, “aku baik-baik saja”. Melike mengangguk dengan tersenyum, “yaa, jelas sekali, wajahmu terlihat gembira”. Nyonya Elvan melirik mantunya yang tak bisa tak berkomentar akan satu hal.

Huseyin tak mau Omer tersinggung lagi oleh istrinya, “Melike, apa kau akan diam saja, ayo, ambilkan tehnya lagi, jangan lupa bawakan camilan milik Hasan, setidaknya ada yang kita makan, ya kan bu?”. Nyonya Elvan mengangguk, ia bangkit, “ibu akan melihat cucu-cucu ibu dulu”, menepuk pundak Huseyin. Huseyin mengusir Melike dengan cara halus, “ayo sayang, naiklah”. Melike bangkit dengan wajah kesal.

Setelah Melike dan ibunya pergi, Omer kembali menengadah ke arah rumah keluarga, “oya kak, bagaimana dengan atapnya”. Huseyin terlihat agak tegang, “aku sudah membereskannya. Ya Tuhan”. Omer bertanya, “berapa banyak”. Huseyin menjawab, “apa urusanmu, apa yang akan kau lakukan”. Omer tak mau Huseyin berahasia, “kakak, jangan buat aku sedih, aku ingin tau saja, katakan”. Huseyin menunjukkan wajah tak bersemangat, mengalihkan pandangannya dari Omer yang menatapnya dengan sepasang mata kejujuran.

Dengan agak ragu, Huseyin memberi tau biaya renovasi atap rumah yang baru saja selesai dikerjakan, “lima ribu, kau sudah tahu hah”. Omer merespon dengan enteng, “kalau begitu aku berikan setengahnya, aku tidak mau kalau nanti gaji kakak habis seperti itu. Kalau nanti masih ada pengeluaran lagi, biar aku saja”. Huseyin menunjukkan wajah tidak senang, “dengar Edem, jangan melakukan perhitangan denganku, apakah aku akan mengambil milik adikku sendiri. Untuk saat ini kau tidak usah pikirkan masalah uang itu, masalah itu, biar urusanku! Aku akan berikan kabar penting untukmu”. Wajah Omer serius, “ada apa?”.

Huseyin menunjukkan wajah memperhatikan sekeliling, kemudian memberitau dengan suara rendah, “kami menemukan berlian lagi”. Omer ingin tau, “dimana”. Huseyin mendekat, “dengar, aku akan menyuruhmu mengikuti orang itu, jangan katakan pada Elif”. Omer semakin penasaran, “siapa kak, darimana kau menemukannya”. Huseyin memberitau dengan tetap waspada pada sekeliling, “dia masih orang dalam Denizer, Taner”. Omer terkejut.

Melike muncul membawa camilan, “ayo kita makan”, kemudian ikut duduk. Huseyin mengalihkan pembicaraan ke makanan yang baru terhidang, “ho ho, lihat ini, Hasan semakin gemuk saja”. Omer meminum tehnya sambil melirik Huseyin. Huseyin yang mengunyah makanan memberi isyarat dengan gerakan mata tentang keberadaan Melike, Omer paham.

Pinar sedang melangkah menuju mobilnya di parkir, berpesan pada salah satu pekerja di rumah itu yang kebetulan sedang menyapu halaman, “aku akan pergi ke salon, sampaikan pada tuan Tayyar jika dia menanyakanku”. Si pelayan paham, “baik nona Pinar”. Pinar menaiki mobilnya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :