Cinta Elif Kara Para Ask #19 41 episode

Di rumah sakit, Zerrin duduk di sebelah Tayyar di bangku tunggu, Taner mondar mandir gelisah. Seorang perawat keluar ruangan, memberitau, “dokter sudah memberikan obat pada nona Asli, sebentar lagi dia akan menemui anda”. Tayyar mengerti, “baiklah nak”. Si perawat tersenyum mengangguk, kemudian melanjutkan tugasnya.

Taner menghampiri Zerrin, “bgaimana kalau kita kabari Elif dan Nilufer”. Zerrin tentu saja menolak usul itu, “jangan. Nanti mereka pasti akan sedih. Aku juga sudah bilang pada Nilufer bahwa pagi ini aku pergi bersama Asli, aku tidak mengijinkan dia ikut. Elif pasti juga akan ikut campur, yang ada kita akan berdebat sia-sia nanti, kau tidak usah khawatir, biar aku yang jelaskan pada mereka”. Taner tak bisa membantah keputusan mertuanya itu, “baiklah, terserah ibu saja”.

Dokter keluar dari ruang pengobatan Asli. Zerrin bangkit dan bertanya, “bagaimana”. Dokter menjelaskan, “hari ini biarkan dia istirahat, kami sedang menunggu pengaruh serumnya, biarkan malam ini dia tenang”. Taner tercenung, Zerrin merespon dokter, “yang penting dia sembuh”. Dokter memberitau, “besok kami berencana memulai pengobatannya”. Zerrin minta ijin bertemu Asli, “boleh aku melihat anakku”. Dokter menjelaskan, “sekarang sedang tidur, jika anda ingin menunggu disampingnya, silahkan”.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 42 episode

Zerrin masuk ke kamar Asli dirawat, duduk disamping tempat tidurnya. Perawat yang keluar ruangan menutup pintu ruangan, hingga Taner yang melongok disitu jadi tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Zerrin pada Asli yang tertidur.

Zerrin memegang tangan Asli, “anakku, malaikatku, ma’afkan ibu sayang, ma’afkan ibu”, sambil mengecup punggung tangan Asli dan menangis dengan mengusap kepala Asli yang pulas.

Di luar ruangan, Tayyar mendekati Taner yang gelisah, menepuk-nepuk pundak Taner, “jangan bersedih, dia akan sembuh”. Taner mengangguk tapi wajahnya terkejut begitu melihat kemunculan Huseyin bersama Arda dan Pelin di ujung lorong rumah sakit, seketika itu juga Tayyar menurunkan tangannya dari pundak Taner, kemudian menunjukkan sikap normal.

Huseyin mengucapkan selamat siang. Tayyar menanyakan kepentingan Huseyin, “ada apa pak polisi”. Huseyin menjelaskan, “kami ingin menemui Taner”. Taner heran, “kemaren aku sudah menjawab semua pertanyaan dikantor polisi”. Tayyar menunjukkan dukungan, “tidak ada yang perlu kau khawatirkan Taner”, kemudian melihat Huseyin, “silahkan pak polisi, kau bisa bawa ke ruanganku, kau bisa bicara nyaman disana. Silahkan”. Huseyin mempersilahkan Taner untuk jalan, kemudian mereka bertiga mengikuti.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :