Bahar melihat Elif dengan tatap tak mengerti, “oh ya Tuhan”. Elif mengungkapkan kekesalannya telah mengambil pilihan yang tak sesuai apa yang dimau hatinya, “orang itu pertama kali mengajakku makan dan aku menolaknya tadi! Ya ampun, apa yang telah ku lakukan?”. Bahar menenangkan Elif, “kau melakukan hal yang benar”. Elif malah membalikkan badan, wajahnya berbinar meninggalkan Bahar yang memanggilnya, “Elif, kau mau kemana!”. Elif terus melangkah cepat. Bahar mengangkat bahu dengan kecewa, rencananya mendekatkan Elif dengan Levent gagal lagi.

Elif berlari keluar gedung menuju parkir, ia melihat mobil Omer sudah berbelok ke jalan raya, ELif berlari mengejar sambil memanggil, “Omer! Omer! Omer tunggu! Omer!”. Omer menyetir dengan wajah fokus, tanpa lirik-lirik spion. Ia hampir sampai di persimpangan, melambatkan kendraannya. Elif yang berlari mengejar sambil berteriak memanggil, “Omer tunggu!”, sampai disamping kendraan Omer. Omer merem kendraannya dengan mendadak, Elif yang ngos-ngosan menatapnya dengan lega.

Omer melepas seat belt dan turun, heran dengan sikap Elif, “kau gila! Apa yang kau lakukan, aku hampir menabrakmu tadi!”. Elif yang bahagia membalas nyantai, “aku tidak melakukan apa-apa, ayo naik!”, sambil memutar dan duduk di kursi depan sebelah kemudi. Omer yang masih tertegun dengan tindakan gila Elif menahan senyum, kemudian melongok Elif yang sudah duduk di dalam mobil dengan wajah sangat senang.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 28 episode

Omer yang bingung dengan perubahan sikap Elif masuk ke mobil, menatap Elif minta penjelasan, “bukankah kau ada pekerjaan?”. Elif menjawab ringan, “tidak, rapatnya dibatalkan, sudahlah tidak usah banyak tanya”. Omer tertawa tertahan melihat sikap Elif yang tak bisa jauh darinya. Elif juga tersenyum, salah tingkah, “ya sudah, sekarang jalan”. Omer tetap tersenyum, “kau tidak bilang mau kemana kita sekarang”.

Elif memasang seat belt, “tempat yang membuat kita berdua merasa nyaman, aku akan mengatakannya, jangan khawatir”. Omer tersenyum, “yaa, jadi kau bilang kau bosnya sekarang”. Elif menatap Omer, “akhirnya kau tau”. Omer mengangguk dengan wajah senyum dan menjalankan mobil.

Di luar gedung perbelanjaan, Taner mencoba memegang lengan istrinya yang sedang emosi, “Asli?”. Asli menepiskan dengan kasar, “lepaskan!”. Zerrin hany bisa memperhatikan kondisi Asli dari belakang. Taner menenangkan istrinya, “Asli, tenanglah sedikit! Daripada kau membuat masalah, lebih baik kau katakan pada kami”. Asli melotot ke Taner dengan marah, “aku mau berbuat sesuatu, kau mengerti?! Sudah cukup! Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil!”, sambil bergegas menjauh.

Taner bicara pada Zerrin, “kalau sampai rumah dia pasti akan tenang”. Zerrin menjawab dengan wajah lelah tapi penuh rencana, “kita tidak akan pulang”. Taner heran dengan ucapan mertuanya, “kita pergi kemana?”. Zerrin menjawab dengan wajah tak bisa dibantah, “ke rumah sakit Tayyar”, sambil memasang kaca mata dan melangkah menuju mobil. Tinggallah Taner yang kebingungan, tapi akhirnya melangkah mengikuti.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :