Dharma memberi nasehat pada Ashoka, “Anakku, jika kau bisa mengendalikan pedang ini, maka kau dihormati. Tapi jika sebaliknya, pedang ini yang mengendalikanmu, maka ini akan menjadi sebab kehancuranmu. Karena senjata apapun akan menimbulkan perasaan untuk memiliki kekuasaan, keangkuhan menjadi sangat menonjol, kebajikan mulai menghilang, sifat baik, kesabaran, belas kasih, perasaan mema’afkan orang pun akan mulai berkurang”.

Ashoka mendengar nasehat ibunya sambil memahaminya, “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi bu. Ini adalah janjiku pada ibu. Tapi ibu lihat sendiri kan, bila musuh merencanakan siasat yang keji, maka seorang yang memiliki perasaan belas kasih itu tidak mungkin bu. Kita, harus menghukum orang yang bersiasat jahat kan”.

Ashoka #115 episode 105 08

Dharma menyentuh pipi Ashoka, “Sebuah hukum dalam bentuk kekerasan itu tidaklah mutlak. Hukum akan dijatuhkan haruslah yang bisa membangkitkan rasa bersalah pada si pelakunya, mengingatkan dia akan perbuatannya. Sebab jika dia menyadari kesalahannya, itu akan membawa pelaku pada pertobatan. Dan pertobatan merupakan sandaran kesadaran bagi si pelaku”.

Ashoka jadi tercenung dan berfikir mendengar ucapan ibunya. Ia melangkah beberapa langkah, membelakangi ibunya, menunjukkan wajah gamang, “Itu adalah hal yang sulit bu, bagaimana jika aku menjadi panglima, bagaimana jika aku berperang. Setiap kesatria wajib menjaga rakyat dan kerajaannya. Di pedang perang, anti kekerasan itu tidak,,”.

Dharma langsung memotong ucapan Ashoka, “Ketika kau memahami kesia-siaan perang, kau akan meninggalkan kekerasan. *Ashoka jadi tenang*. Karena seperti semua perang, alasan untuk perang hanya dicari-cari, sama seperti perdamaian, alasan perdamaian juga bisa dicari”.

Ashoka #115 episode 105 10

Ashoka mengernyitkan wajahnya lagi, melangkah ke hadapan ibunya lagi, “Jika untuk melindungi nyawa pilihannya hanya melakukan kekerasan bagaimana”. Dharma menjelaskan prinsip yang diyakininya dengan tenang, “Orang yang menganut kekerasan karena takut pada kematian tidak mungkin menjadi pelaku kekerasan. Inilah kekuatan anti kekerasan, inilah kemenangan anti kekerasan”. Ashoka merasa sedikit tercerahkan, ia memegang lengan kiri ibunya, “Ibu, mendengar hal-hal seperti ini dulunya aku tidak merasa takut, tapi sekarang aku jadi bimbang”.

Ashoka menunjukkan wajah berfikir keras, kemudian menatap ibunya, “Apakah tantangan yang ku hadapi dalam kehidupan ini, bisa kuhadapi tanpa mengecewakan ibu”. Dharma kembali memegang sebelah pipi Ashoka, “Aku merasa yakin sekali ajaran yang ku berikan padamu, kau pasti akan selalu menghormatinya. Kau akan menjadi pembawa perdamaian Ashoka, bukan kematian seseorang. Kau akan membebaskan orang dari penderitaan, seperti saat kau lahir, kau membebaskan aku dari deritaku”. Ashoka menatap ibunya, Dharma tersenyum.

Ashoka menatap pedang ditangannya, “Aku akan berusaha keras untuk itu bu”. Dharma menaroh tangannya diatas kepala Ashoka, menyentuh pipi Ashoka sebagai tanda restu, sambil tersenyum.

Ashoka #115 episode 105 11

Khorasan sedang berdiri sambil berfikir saat seorang pelayan wanita menghampirinya, “Ma’af panglima Mir Khorasan, pangeran Siyamak tidak ditemukan dimana-mana. Mungkin dia di kamar ibunya”. Si pelayan menjawab, “Tidak, permaisuri Noor yang menyuruhku mencarinya, ketika dia tidak ditemukan dia meminta aku untuk memberi tau anda”.

Khorasan bertanya, “Apa kau sudah lihat di gudang? Seringkali kalau dia sedih, dia suka duduk disana, hhhm”. Si pelayan wanita menggeleng, “Tidak, aku tidak mencari kesana panglima”. Khorasan memutuskan, “Ayo kita lihat”.

Di gudang, Siyamak sedang duduk dengan wajah ketakutan dan tangan menggigil. Terbayang saat ia dan ibunya berlari di istana lak, dan semuanya sudah terbakar, saat berbalik, mereka berdua dihadang oleh prajurit bersenjata. Siyamak semakin duduk ketakutan, terbayang saat salah satu prajurit memukul kepala ibunya hingga sampai pingsan.

Mir Khorasan memasuki gudang, ia memanggil, “Siyamak”. Siyamak terkejut dengan wajah ketakutan. Mir Khorasan dan pelayan Sitara memasuki gudang sambil memanggil, “Siyamak”. Siyamak bersikap dengan posisi seperti orang mengumpet di tempatnya duduk. Khorasan sudah mau keluar gudang saat dibelakangnya ia mendengar benda bergeser yang tanpa sengaja terdorong tangan Siyamak.

Ashoka #115 episode 105 14

Khorasan berbalik, dia sangat terkejut melihat Siyamak yang sangat ketakutan, “Siyamak?!”. Siyamak berdiri dengan kaget. Khorasan menatap cucunya itu, “Apa yang kau lakukan disini, ayo keluar”, sambil memegang pundak Siyamak. Siyamak menangis, “Mereka akan membunuh, mereka akan membunuh ibuku juga, mereka akan membunuh semuanya!”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :