Ashoka menarok ikan yang sudah tertangkap ke tempat yang sudah dibawa Raja Bindusara sebelumnya. Bindusara berkata, “Mari kita coba lagi sekarang”. Ashoka menggerakkan dagunya sebagai isyarat, ‘ayo’. Ashoka bersiap, Raja Bindusara bersiap, keduanya bersamaan melepaskan tombak masing-masing ke sungai, dan sama-sama memutar ujungnya, menandakan di ujung tombak masing-masing ada yang nyangkut.

Ashoka episode #44 22

Raja Bindusara melirik Ashoka dengan senyum yakin, kalau kali ini dia juga berhasil. Ia bertanya, “Darimana kau belajar menangkap ikan”. Ashoka memberitau, “Cuma pengalaman hidupku”. Ashoka menangkap tombaknya dan tersenyum, ada ikan lagi di ujungnya. Ia melihat ke ujung tombak Raja Bindusara yang sudah diangkat juga, disana nyangkut sebelah sandal. Raja Bindusara menatapnya dengan mimik bingung. Ashoka tertawa melihat Raja dan hasil tangkapannya. Raja Bindusara pun tertawa. Mereka berdua pun tertawa bersama.

Ashoka episode #44 21

Cerita serial Ashoka episode selanjutnya, wakil panglima khorasan menemukan secarik kertas dilantai dan membacanya. Khorasan yang melihat itu terlihat marah, menghampirinya. Si wakil panglima mempertanyakan surat yang ditulis Khorasan, “kenapa kau memberitau semua tindakan Yang Mulia kepada permaisuri Noor? Itupun tanpa sepengetahuan Yang Mulia. Yang Mulia merahasiakan tempat peristirahatannya, jika dia, ingin melihat senyum paada seorang anak yang saat itu dia sedang bersedih, katakan dimana masalahnya”.

Khorasan mengambil kertas tersebut, ‘apa yang aku lakukan, ini demi kebaikan Yang Mulia itu sendiri’. Si wakil panglima meragukan ucapan Khorasan, “Yang Mulia atau permaisuri Noor”. Khorasan marah, “sadarilah batasanmu Akhramat, derajatmu tidak setinggi itu hingga kau bisa bicara lancang kepadaku”. Akhramat membela diri, “Tapi aku tidak bisa melihat perintah Yang Mulia bisa dilanggar seperti ini”. Khorasan mengancam, “Jika kau bantah lagi perkataanku, maka aku yakin, kau tidak berada dipihakku”. Akhramat menarik nafas yang bisa diartikan, ‘halah, kemana larinya’.