Chanakya menambahkan, “Aku juga merasa heran, bagaimana kau bisa mengalami musibah selagi ada Nirjara”. Dharma menatap adik Nirjara yang sangat terpukul mendengar kabar sedih itu. Chanakya tertunduk, “Dan aku pun mulai meragukan kesetiaannya”. Dharma menutup wajahnya, tak bisa menahan tangis.

Chanakya menatap adik Nirjara, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, “Ma’afkan aku”. Chanakya menatap Dharma, “Dewi, lihatlah bagaimana nasibnya, Nirjara yang dianggap sebagai jasadmu, Yang Mulia Bindusara telah mengkremasikan dia dengan cara-cara kerajaan dan juga telah memberinya penghormatan”. Dharma agak tenang mendengarnya.

Chanakya bicara pada adik Nirjara, “Dewi Isvari, pelayanan tanpa pamrih dari Nirjara, kerajaan Magadh sampai akhir zaman akan berhutang budi pada Nirjara”. Dharma cemas, ia baru ingat, “Lalu Ashoka? Apa dia juga mengira kalau aku,,”. Chanakya memberitau, “Seluruh Magadh menganggap begitu Dewi, kecuali putramu seorang, Ashoka. Dia sangat yakin sekali bahwa kau masih hidup”. Chanakya membayangkan suasana di halaman istan yang penuh oleh orang-orang yang melayat, Ashoka berteriak lantang, ‘dengar semuanya, ibuku masih hidup! Kalau dia terluka, maka aku yang merasakan lebih dulu! aku!’. Dharma menangis haru mendengarnya.

Chanakya menambahkan, “Dia memang sangat menderita, tapi dia tetap pada pendiriannya, *membayangkan Ashoka yang bersumpah berdiri diatas satu kaki*, Dia bahkan menolak hadir dalam upacara kremasi. Ashoka marah pada semuanya, dia meninggalkan Pathaliputra dengan keyakinan, dia akan mencarimu Dewi”. Dharma mendekap dada mendengarnya.

Ashoka episode #44 17

Sambil menahan tangis, Dharma menyampaikan keinginannya, “Aku, aku ingin bertemu dengannya, dimana dia, ajak aku bertemu dengannya. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Tolong ajak aku menemuinya”. Chanakya memberitau, “Dia baik-baik saja, dia ada digubuknya, dan ayahnya telah kesana, untuk mengajaknya kembali ke Pathaliputra Dewi”.

Dharma terpana, dadanya sesak menahan kecemasan, “Bawa aku kesanan secepatnya Acharya, aku ingin beritau dia bahwa keyakinannya itu benar, aku masih hidup, aku aman. Tolong bawa aku Acharya”. Chanakya menjelaskan kondisinya, “Bila kau kehadapan Yang Mulia, persoalannya akan semakin sulit”.

Dharma menahan marah, “Saat ini aku hanya mencemaskan putraku, kalau kau tidak mengajak aku untuk menemuinya, aku sendiri yang akan pergi kesana”. Chanakya melihat keinginan sangat kuat diwajah Dharma, “Baiklah, aku akan mengajakmu kesana”. Dharma menatap Chanakya mencari kepastian. Radhagupt menyimak.

Ashoka episode #44 18

Di daerah sungai yang lain, dipinggir gubuknya, Ashoka melangkah menuju ke pinggir, berdiri dengan tatap sedih. Tak jauh dari tempatnya berdiri, dibibir sungai, ia melihat Raja Bindusara berusaha menangkap ikan dengan tombak kayu, tapi tak berhasil mendapatkan ikan. Ashoka menahan senyum melihatnya, melangkah mendekati raja Bindusara. Raja Bindusara sedang mencoba sekali lagi, tapi tak berhasil.

Raja Bindusar berkacak pinggang, memberitau Ashoka, “Kelihatannya tidak ada satupun ikan di danau ini”. Ashoka juga menaroh satu tangannya di pinggang, “Ikannya banyak Yang Mulia, tapi aku rasa tidak mungkin terpancing dengan cara, yang anda gunakan ini Yang Mulia”. Raja Bindusara mengartikan ucapan Ashoka, “Bagaimana kau mengatakan kalau aku tidak bisa menangkap ikan disini, dan kau bicara seolah-olah kau telah memenangkan medali untuk hal ini”.

Ashoka episode #44 19

Ashoka menjawab, “Kalau medali tidak tau, tapi aku yakin, dalam waktu selama itu, aku pasti bisa, menangkap satu ikan saja”. Raja Bindusara menantang dengan tersenyum, “Kalau begitu tunjukkan, apa kau bisa menangkapnya kan”. Wajah Ashoka langsung terlihat sedih, ia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, “Ma’af Yang Mulia, saat ini aku tidak ingin menangkap ikan”. Ashoka membalikkan badan.

Raja Bindusara menahan Ashoka dengan ucapannya, “Tunggu dulu, kau takut dan tidak bisa menangkap ikan, mhhhhhakhak”. Ashoka tertantang, “Anda tau kan, apa yang ku katakan, pasti akan kulaksanakan”. Raja Bindusara merespon, “Oya, coba tunjukkan”. Ashoka mengambil satu tombak kayu lagi, bersiap, memperhatikan ikan di dalam sungai. Raja Bindusara berdiri memperhatikan, bak seorang sahabat yang sedang melihat kemampuan sahabatnya.

Ashoka memutar-mutar tombak kayu ditangannya, melirik Raja Bidusara dengan gerak alis yang dapat diartikan bahwa menangkap ikan itu pekerjaan kecil baginya. Raja Bindusar menahan senyum melihat sikapnya itu. Ashoka bersiap. Raja Bindusara mengomentari, “Ada apa kawan, kau bilang dalam waktu singkat, ikan bisa kau tangkap dengan mudah. Mana ikannya”, sambil tersenyum.

Ashoka episode #44 20

Ashoka menunjukkan wajah serius melihat kedalam air, saat matanya melihat pergerakan ikan, ia lempar tombak ditangannya dengan cepat. Raja Bindusara memperhatikan ujung tombak Ashoka. Ashoka mengangkat tombaknya, ada ikan di ujungnya. Raja Bindusara tersenyum, mengakui kawnnya itu, “Hebat sekali”. Ashoka kembali memperlihatkan wajah kalau itu hanya pekerjaan enteng baginya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :