Shakuntala episode 64 #63 07

Sementara di kamarnya, Kalki menatap wajahnya sendiri dengan sedih di meja riasnya, “Pangeran Dushyant seolah merampas ketenanganku. Lebih sejuk dari air, lebih tunggu dari gunung, aaahhh, kira-kira apa itu. Aku mau tanya pada siapa, aku jadi bingung kalau begini”. Kalki berteriak ke pelayan yang sedang rapi-rapi, “hei, sini”. Pelayang mendekat, “ya Putri, katakanlah”.

Kalki menarik nafas dulu, kemudian mengatur suara dengan nada angkuh, “apa yang lebih tinggi daripada gunung”. Pelayang menjawab, “Tinggi. Aku selalu merasa, gununglah yang paling tinggi putri”. Kalki membantah, “bukan. Ada yang lebih tinggi dari gunung”. Pelayan heran, “apa”. Kalki emosi, “aku bertanya padamu! Kau malah balik tanya padaku, sana, pergi dari sini!”. Pelayan dengan tertunduk pergi meninggalkan Kalki.

Dada Kalki naik turun, “aku merasa, aku harus menanyakan pertanyaan ini, pada orang yang membuat pertanyaan ini. Bagaimanapun, aku harus cari tau jawaban ini dari Dushyant sendiri”. Kalki memantapkan hatinya di depan meja riasnya.

Shakuntala episode 64 #63 09

Mritunjay dan Shakuntala memasuki ruangan Rishi Satanand, “salam Rishi”. Rishi Satanand mendekati, “semoga panjang umur Pangeran”. Mritunjay berkata, “Aku merasa senang, anda bisa datang”. Rishi memberitau, “Bagaimana tidak akan datang, aku harus hadir menggantikan Rishi Kanva”. Mritunjay juga memberitau sambil melirik ke arah Shakuntala, “Aku akan mengajak anda menemui Raja Puro dan Pangeran Dushyant”. Rishi tersenyum, Shakuntala menundukkan wajahnya dengan gelisah.

Mritunjay menambahkan, “Iya, itu kalau Pangeran Dushyant bisa bangun pagi. Di malam hari dia sibuk berpesta dengan Putri Kalki dan teman-temannya”. Rishi Satanand tersenyum mendengar informasi itu. Shakuntala jengah mendengarnya, “aku, aku segera kembali”. Shakuntala meninggalkan raungan itu. Mritunjay dan Rishi Satanand saling tersenyum.

Shakuntala episode 64 #63 10

Shakuntala pergi ke ruang pemujaan. Berdiri di hadapan Dewa dengan mata berkaca-kaca dan merapatkan ke dua telapak tangannya di depan dada, “Ya Dewa, untuk ujian apa kau sekarang memanggil aku kesini. Aku merasa takut sekali, beri aku kekuatan, agar apapun yang akan terjadi nanti, aku bisa menghadapinya”.

Di ruang lain istana, Gauri masih saja meneteskan air matanya. Ia terbayang ucapan Panglima Veer, ‘jauhi aku Putri. Seorang panglima biasa tidak punya kedudukan, hingga seorang putri bisa bicara dengannya”. Lamunan Gauri diiringi musik yang semakin membuat miris hati, yang dilanda jatuh cinta tapi terhalang pemisah :

Bila hati tak bahagia, dunia terasa tidak menyenangkan,,
Hati ini seakan hancur,,,

Shakuntala episode 64 #63 12

Veer di kamarnya, di dekat jendela, juga meneteskan air mata.
Dushyant di kamarnya, juga melamun di dekat jendela dengan wajah sedih, mata berkaca-kaca.

Shakuntala setelah berdoa pada Dewa, juga melamun di dekat jendela, air mata mengalir di pipinya.

Musik patah hati sedang mengalun di ruang-ruang hati empat orang itu lewat angin yang bertiup di tembok istana.

Bagaimana jika malam tiba sebelum sore hari
Bagaimana jika hati dilanda kesedihan
Seolah ada yang memanggil tapi tidak kelihatan
Hati ini seakan hancur,,

Shakuntala episode 64 #63 14

Gauri seperti tidak punya kehidupan duduk didepan meja rias saat ibu Ratu memasangkannya perhiasan dibantu pelayan. Ibu Ratu tetap tersenyum, menyentuh dagu Gauri dengan tangannya agar terangkat.

Di kamarnya, air mata Dushyant mengalir di pipi. Shakuntala tersedu di ruangannya, Veer menangis dalam diam, Gauri terisayak, walau tangan ibu Ratu menguatkan dibahunya.

Mritunjaya mengajak Rishi Satanand dan Shakuntala menghadap Raja dan Ratu Puro. Saat melihat di singgasana hanya ada Raja dan Ratu, sementara kursi lainnya kosong, ia berbicara, “kelihatannya Pangeran Dushyant tidak tidur sepanjang malam karena itulah dia tidak datang”. Shakuntala mendengarkan dengan wajah seperti berpikir.

Shakuntala episode 64 #63 15

Mritunjay dengan percaya diri berkata pada Raja dan Ratu, “Yang Mulia, Ibu Permaisuri, kenalkan, mereka datang dari Ashram Rishi Kanva”. Ibu Ratu langsung tersenyum dan berdiri, turun ke hadapan mereka, ia terus menatap gadis yang berdiri di situ. Mritunjay memberi tau Ratu, “ini Rishi Satanand”. Ibu Ratu memberi salam, “Salam Rishi”.

Mritunjay menambahkan, “dan ini putrinya Rishi Kanva”. Ibu Ratu langsung menyambung dengan wajah cerah, “Shakuntala”. Shakuntala merapatkan kedua telapak tangannya di dada. Ibu Ratu mendekat ke hadapannya dan memegang dagunya, “aku langsung mengenalimu saat melihat wajahmu”. Ibu Ratu memeluknya.

Ibu Ratu melepaskan pelukannya, masih menatap Shakuntala, “waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemaren, kau masih kecil. Dan lihatlah sekarang, setelah dewasa kau secantik rembulan”. Shakuntala tersenyum. Ibu Ratu menoleh, “Rishi, semuanya baik-baik saja di ashram?”. Rishi menjawab, “Ya, semuanya baik-baik saja di shram”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :